Ogoh-Ogoh dari Sampah Plastik, Pesan Kuat Menjaga Bumi di Perayaan Nyepi Caka 1948 - Peradah Sulawesi Utara

Bolaang Mongondow — Kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan berpadu kuat dalam perayaan menyambut Nyepi, Tahun Baru Caka 1948, di Desa Werdhi Agung, Kecamatan Dumoga Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow. Salah satu yang paling menyita perhatian masyarakat adalah hadirnya sebuah ogoh-ogoh unik yang terbuat dari sampah plastik dan limbah rumah tangga, hasil karya penuh makna dari warga bersama para seniman setempat.

Ogoh-ogoh tersebut tampil mencolok dengan bentuk menyeramkan, penuh warna, dan berdiri gagah di atas rangka bambu. Namun di balik sosoknya yang garang, tersimpan pesan moral yang sangat dalam: bahaya sampah plastik bagi masa depan bumi.

Karya ini bukan sekadar bagian dari tradisi pengerupukan menjelang Hari Raya Nyepi, melainkan juga menjadi media edukasi bagi masyarakat. Berbagai bahan bekas seperti bungkus plastik, botol minuman, serta limbah anorganik lainnya dirangkai menjadi satu tubuh ogoh-ogoh yang artistik. Pesannya jelas, bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna justru dapat diolah menjadi simbol peringatan bagi manusia agar lebih peduli terhadap alam.

Dalam filosofi Hindu, ogoh-ogoh melambangkan unsur-unsur negatif atau sifat buruk yang harus dinetralisir sebelum memasuki tahun baru Caka. Pada karya kali ini, sifat negatif itu diwujudkan dalam bentuk kerusakan lingkungan akibat sampah plastik. Artinya, musuh yang harus dilawan bukan hanya amarah, keserakahan, atau hawa nafsu, tetapi juga kebiasaan manusia membuang sampah sembarangan dan merusak bumi dengan limbah yang sulit terurai.

Maestro ogoh-ogoh Banjar Eka Dasa, Bapak Dera Trula, mengungkapkan bahwa ide membuat ogoh-ogoh dari sampah lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi bumi saat ini.

“Saya prihatin dengan kondisi bumi sekarang ini yang dipenuhi sampah. Kalau dibiarkan terus, bumi akan rusak di masa mendatang,” ujar Bapak Dera Trula.

Menurutnya, karya ogoh-ogoh harus mampu mengikuti perkembangan zaman dan menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Karena itu, penggunaan sampah plastik dalam pembuatan ogoh-ogoh bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga bentuk ajakan terbuka kepada masyarakat untuk mulai mengurangi limbah plastik sejak dari rumah.

Pesan yang dibawa ogoh-ogoh ini terasa sangat relevan di tengah persoalan sampah yang semakin mengkhawatirkan. Plastik menjadi salah satu limbah yang paling sulit terurai dan kerap mencemari tanah, sungai, hingga lautan. Bila tidak dikendalikan, dampaknya akan dirasakan oleh generasi mendatang dalam bentuk kerusakan ekosistem, banjir, pencemaran lingkungan, hingga menurunnya kualitas hidup manusia.

Melalui ogoh-ogoh ini, warga Desa Werdhi Agung menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya warisan budaya, tetapi juga bisa menjadi suara kepedulian sosial dan lingkungan. Seni dihadirkan bukan sekadar untuk ditonton, melainkan untuk menyadarkan. Bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari langkah kecil: memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan memanfaatkan kembali barang bekas agar tidak menjadi limbah yang merusak.

Perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1948 di Desa Werdhi Agung pun menjadi lebih dari sekadar peringatan keagamaan. Ia menjelma sebagai momentum refleksi bersama, bahwa manusia tidak hanya perlu membersihkan diri dari sifat-sifat buruk, tetapi juga harus mulai membersihkan bumi dari tumpukan sampah yang mengancam masa depan.

Ogoh-ogoh dari sampah plastik ini menjadi simbol kuat bahwa bumi sedang “berteriak” meminta perhatian manusia. Dan lewat tangan-tangan kreatif masyarakat, pesan itu disampaikan dengan cara yang indah, menyentuh, dan penuh makna.

Share

Post navigation

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments